MEMAHAMI WASIAT 140 (PUPUH) AJARAN DAN PEMIKIRAN SYEKH SITI JENAR / SYEIKH HASAN ALI SECARA KESELURUHAN – V

107. Menurut pendapat saya. Yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata.

108. Mana ada Hyang Maha Suci? Baik di dunia maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan yang menemani. Disitulah Dzatullah mesra bersatu menjadi saya.

109. Karena saya di dunia ini mati, luar dlam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang.

110. Orang yang ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Siti Jenar, sebab ia sudah paham dengan mengusai sebelumnya. Di sini dia tahu rasanya di sana, di sana dia tahu rasanya di sini.

111. Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam kehingan, tersimpan dati sanubari, terbukalah tirai, tak lain antara sadar dan tidur, ibarat kaluar dari mimpi, menyusupi rasa jati.

112. Manusia tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek.

113. Manusia tidak boleh berbohong.

114. Manusia tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar, dan menyakiti orang lain.

115. Manusia tidak boleh memakan daging (hewan darat, udara ataupun air).

116. Manusia tidak boleh memakan nasi kecuali yang terbuat dari bahan jagung.

117. Manusia tidak boleh mengkhianati terhadap sesama manusia.

118. manusia tidak boleh meminum air yang tidak mengalir.

119. Manusia tidak boleh membuat dengki dan iri hari.

120. Manusia tidak boleh membuat fitnah.

121. Manusia tidak boleh membunuh seluruh isi jagad.

122. manusia tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik, atau tidak berbulu.

123. Bila jiwa badan lenyap, orang menemukan kehidupan dalam sukma yang sungguh nyata dan tanpa bandingan. Ia dapat diumpamakan dengan isinya buah kamumu. Pramana menampilkannya manunggal dengan asalnya dan dilahirkan olehnya.

124. tetapi yang kau lihat, yang nampaknya sebagai sebuah boneka penuh mutiara bercahaya indah, yang memancarkan sinar-sinar bernyala-nyala, itu dinamakan pramana. Pramana itu kehidupan badan. Ia manunggal dengan badan, tetapi tidak ambail bagian dalam suka dan dukanya. Ia berada di dalam badan.

125. Tanpa turut tidur dan makan tanpa menderita kesakitan atau kelaparan. Bila ia terpisah dari badan, maka badan ikut tertinggal tanpa daya, lemah. Pramana itulah yang mampu mengemban rasa, karena ia dihidupi oleh sukma. Kepadanya diberi anugrah mengemban kehidupan yang dipandang sebagai rahasia rasa nya Dzat.

126. Penggosokan terjadi karena digerakkan oleh angin. Dari kayu yang menjadi panas muncullah asap, kemudian api. Api maupun asap keluar dari kayu. Perhatikanlah saat permulaan segala sesuatu, segala yang dapat diraba dengan panca indera, keluar dari yang tidak kelihatan tersembunya…..

127. Ada orang yang menyepi dipantai. Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Buka dua hal yang mereka pikirkan. Hanya Pencipta semesta alam yang menjdai pusat perhatiannya. Karena kecewa belum dapat berjumpa dengan-Nya, maka mereka lupa makan dan tidur.

128. Badan jasmani disebut cermin lahir, karena merupakan cermin jauh dari apa yang dicari dalam mencerminkan wajah dia yan ber-paes. Cermin batin jauh lebih dekat.

129. Siang malam terus menerus mereka lakukan shalat. Dengan tiada hentinya terdengarlah pujian dan dzikir mereka. Dan kadang mereka mencari tempat lain dan melakukan konsentrasi di kesunyian hutan. Luar biasalah usaha mereka, hanya Penciptalahyang menjadi pusat pandangannya.

130. Badan cacat kita cela, keutamaan kerendahan hati kita puji, tetapi keadaan kita ialah digerakkan dan didorong olek sukma. Tetapi sukma tidak tampak, yang nampak hanya adan.

131. Cermin batin itu bukanlah cermin yang dipakai orang-orang biasa. Cermin ini sangat istemewa, karena mendekati kenyataan. Bila kau mengetahui badan yang sejati itulah yang dinamakan kematian terpilih.

132. Bila engkau melihat badanmu, Aku turut dilihat … Bila kau tidak memandang dirimu begitu, kau sungguh tersesat.

133. Sukma tidak jauh dari pribadi. Ia tinggal di tempat itu jua. Ia jauh kalau dipandang jauh, tetapi dekat kalau dianggap dekat. Ia tidak kelihatan, karean antara Dia dan manusia terdapat kekuadaan-Nya yang meresapi segala-galanya.

=====================================

Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dengan kaca ajaib yang lazim kita sebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada di wajah kita; baik yang menyenangkan atau yang tidak, bahkan mungkin yang membuat kita malu.

Dengan cermin, kita mematut-matut diri. Barangkali karena itulah hampir tidak ada rumah yang tidak menyimpan cermin. Karena hampir semua orang ingin dirinya patut.

Tanpa bercermin kita tidak bisa melihat sendiri noda yang ada pada diri kita. Dan tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya.

Di dalam Islam, ada dawuh,” Almu’minu miraatul mu’min”,” Orang mukmin adalah cermin mukmin yang lain”; “Inna ahadakum mir’atu kulihi”,” Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin saudaranya. Artinya masing-masing orang mukmin bisa –atau seharusnya– menjadi cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin dapat menunjukkan noda saudaranya, agar saudaranya itu bisa menghilangkannya.

Dalam pengertian yang lain, untuk mengetahui noda dan aib kita, kita bisa bercermin pada saudara kita. Umumnya kita hanya –dan biasanya lebih suka—melihat noda dan aib orang lain. Sering kali justru karena kesibukan kita melihat aib-aib orang lain, kita tidak sempat melihat aib-aib kita sendiri.

الْنُّوْرُ لَهُ الْكَشْفُ، وَالْبَصِيْرَةُ لَهَا الْحُكْمُ، وَالْقَلْبُ لَهُ الْإِقْبَالُ وَالْإِدْبَارُ

Dalam pembukaan Tabir Ghoib (kasyf) Terdapat Unsur Hidayah (al-Nur) sebagai penerangnya dalam penentuan Hukum (al-hukmu) terdapat ungsur mata hati (albashiroh) sebagai penentu terlaksananya Hukum,dan dalam kemajuan (al-iqbal) serta kemunduran (al-idbar) terdapat unsur hati (al-qolb) sebagai pelaksana.

==============================================

يعني أن النور الذي يقذفه الله في قلب المريد وهو العلم اللدني له الكشف أي كشف المعاني كحسن الطاعة وقبح المعصية. والبصيرة التي هي عين القلب لها الحكم أي إدراك الأمر الذي شاهدته وكشف لها عنه بالنور.”

==============================================
Berarti bahwa sesungguhnya cahaya yang Allah anugrahkan menyebabkan hati seorang yang menghendaki (murid) itu terbuka dalam memahami Ilmu laduni
Seperti dapat melihat benda tanpa lampu bermanifestasi sebagai dari matahari dan bulan, wawasan itu tidak bisa mengantarkan kita dalam memahami dan merasakan makna untuk apa pun tanpa Cahaya hati . Cahaya yang Tuhan anugrahkan ke dalam hati seorang [murid], yaitu pengetahuan Ilahi, memperkenalkan, atau menjelaskan makna sebenarnya dari hal-hal sebagai keindahan ketaatan dan keburukan kesalahan. yang merupakan mata untuk
para hakim jantung, atau memahami apa yang di lihatnya diungkapkan oleh Cahaya Hati .
==========================================

134. Hyang Sukma Purba menyembunyikan Diri terhadap peglihatan, sehingga ia lenyap sama sekali dan tak dapat dilihat. Kontemplasi terhadap Dia yang benar lenyap dan berhenti. Jalan untuk menemukan-Nya dilacak kembali dari puncak gunung.

135. Tetapi Hyang Sukma sendiri tidak dapat dilihat. Cepat orang turun dari gunung dan dengan seksama orang melihat ke kiri ke kanan. Namun Dia tidak ditemukan, hati orang itu berlalu penuh duka cita dan kerinduan.

136. Hendaklah waspada terhadap penghayatan roroning atunggil agar tiada ragu terhadap bersatunya sukma, pengahayatan ini terbuka di dalam penyepian, tersimpan di dalam kalbu. Adapun proses terungkapnya tabir penutup alam gaib, laksana terlintasnya dlam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk. Penghayatan gaib itu datang laksana lintasan mimpi. Sesungguhnya orang yang telah menghayati semacam itu berarti telah menerima anugrah Tuhan. Kembali ke alam sunyi. Tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Maha Kuasa telah mencakup pada dirinya. Dia telah kembali ke asal mulanya…..

137. Mati raga orang-orang ulama yang mengundurkan diri di dalam kesunyian hutan ialah hanya memperhatikan yang satu itu tanpa membiarkan pandangan mereka menyinpang. Mereka tidak menghiraukan kesukaran tempat tinggal mereka hanya Dialah yang melindungi badan hidup mereka yang diperlihatkan. Tak ada sesuatu yang lain yang mereka pandang, hanya Sang Penciptalah yang mereka perhatikan.

138. Yang menciptakan mengemudi dunia adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia yang dipandang sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh, jangan sampai pandanganmu terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik iman kepercayaanmu dan tolaklah hawa nafsumu.

139. Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan terseyum seolah-olah kau sudah mengerti, bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Itu semua hanya berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkapkan dengan kata-kata.

140. Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri tidak lagi dipandang. Papan tulis dan tulisan sudah lebur, kualitas tak ada lagi. Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang. Tiadak ada lagi sesuatu.

JIKA DALAM MEMAHAMI KITAB KARYA KARYA SYEIKH SITI JENAR SYAIKH HUSYAIN BIN MANSUR AL-HALLAJ SYAIKHUL KABIR IBNU AL-AROBI DAN KITAB” KARYA PARA SUFI TIDAK DENGAN BIMBINGAN GURU DAN DISIPLIN ILMUNYA MAKA KALIAN PASTILAH AKAN TERSESAT KALO HANYA BERMODAL TERJEMAHAN SEMATA ….

DALAM HIKAMNYA BELIAU BERPESAN ……

لا يرتجى الوصول ممن لم يتابع الرسول

Tidak dapat diharapkan Wushul ( sampai ) kepada Allah dari orang yang tidak mengikuti Rasululllah SAW.

لا يعرف ما نقول إلا من اقتفى أثر الرسول

Tidak akan faham apa yang kami katakan, kecuali orang yang telah mengikuti jejak Rasulullah SAW.

الحقيقة لا ينطق بها لسان، بل هي ذوق ووجدان

Hakikat itu tidak dapat diucapkan oleh lisan, bahkan ia adalah perasaan batin (dzauq) dan emosi yang halus (wujdan).

لا تكون عبدا لله، وأنت تميل إلى شيء سواه

Engkau tidak akan menjadi hamba bagi Allah sedang engkau cenderung (hati) kepada sesuatu yang selainNYA.

لا تأخذ العلم إلا عمن يعمل به

Janganlah engkau mengambil ilmu kecuali dari orang yang mengamalkannya

ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

JANGAN BERMIMPI BISA MEMAHAMI BAHASA SANG PECINTA JIKA KAMU SENDIRI BELUM PERNAH MENGALAMI CINTA ITU …..

JANGAN PERNAH KAU ANGGAP HASRATMU (hawa nafsu) PADA SESAMAMU KAU SAMAKAN DENGAN CINTAMU PADA AL-ILAAH
KARENA BAGAIMANAPUN CINTA-NYA PASTI AKAN MEMANGGILMU SETELAH PERTEMUAN -PENYAKSIAN …

BUKAN KARENA KETAATAN YANG ITU HASIL DARI KEBODOHANMU …

لا ينال غاية رضاه من في قلبه شيء سواه

Tidak akan memperoleh puncak keridho’anNYA seseorang yang di dalam hatinya ada sesuatu yang selain NYA.

أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:

(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,

(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,

(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,

(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),

(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,

(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang

mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7)

beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya kamu berkewajiban menunaikan hak-hak kepada Tuhanmu, kepada dirimu sendiri, dan kepada keluargamu. Tunaikanlah setiap pemilik hak itu haknya masing-masing.”

أحبُّ الناسِ إلى الله أنفعُهم للناس

“Manusia yang lebih aku sukai kepada Allah adalah manusia yang memberikan manfaat kepada sesamanya.

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki .

Perbendaharaan tentang kebahagiaan tertutup dengan sesuatu yang mulai mengerikan.

Aku tetap merindukan cahaya…

tapi saat itu, suasana terlampau muram.

Aku dirundung kesedihan yang tak pernah kurasa sebelumnya.

Kesepian yang mencekam,

AkhirNya Kusadari bahwasanya

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah
Pada keluarga kecil
ada yang terkecil
Raihlah orang yang di sebelah kanannya
bakal kau pegang tangan kanan
Engkau lihat yang kiri di sebelahnya
Engkau raih tangan kirinya.

SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR’AN DAN AL-HADIST KENAPA TIDAK KITA PELAJARI SEBAGAI BEKAL UNTUK HIDUP BERMASYARAKAT SEBAGAI MANA ADAB DAN PRILAKU ROSULULLOH SAW

TAMAT

 BANYAKLAH BELAJAR DISIPLIN ILMU AGAR TIDAK TERJEBAK WASANGKA YANG BURUK YANG LAHIR DARI NAFSU SYAITHOONIYAH DAN KITAPUN TIDAK MEMAHAMI KEHIDUPAN TERDAHULU

PADAHAL KITAB PUPUH DI AMBIL DARI KITAB HUWA HUWA SYEIKH MANSUN BIN HUSEN AL-HALLAJ – KITAB IHYA AL-‘ULUMUDDIN KITAB SYEIKH IMAM AL-GHOZALI- KITAB HIKAM SYEIKHUL AKBAR IBNU AL-‘AROBI KITAB INSAN KAMILNYA SYEIKH ABDUL KARIM AL-JILLI – KITAB HIKAM IBNU ‘ATHOILLAH KITAB RISALAH RUSLANI -FATHURROHMAN KARYA SYEIHK RUSLANI …

.SILAHKAN DI KAJI KEMBALI JIKA ADA YANG KELIRU

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s