MENGOSONGKAN DIRI DALAM SIIRR : TAKHALLIYAH AL-SIRR

Sang hamba, sama seperti garam larut dalam air. Dan jika eksistensi tersendiri dari garam ini dicari, maka ia tidak akan diketahui lagi. Dalam pengertian inilah AL-DLOO’IF

Kucari diriku sendiri dalam diriku dan tak kutemukan diriku

YANG ADA HANYALAH ALLOH DZAT YG MAHA ADA … AWAL TANPA DI AWALI … AKHIR TANPA PENUTUP & PENGHABISAN,,, YANG MAHA KEKAL ADANYA DAN TIDAK ADA

SESUATU YANG MENEMANI KE’ADA’AN-NYA ,,,, SELAMA-LAMANYA

Ketika sedang melakukan kontemplasi, sang penempuh jalan spiritual — disebabkan mabuk secara spiritual — mungkin tidak sadar akan keterbatasan atau “ketertentuan” nya sendiri. Akan tetapi, “ketertentuan” itu tidak bisa dihilangkan. Sang ‘abd tidak berubah menjadi Yang Maha mutlak. Wujud yang mungkin tidak berubah menjadi Dzat Mahaabadi. Yang disebut fana’ berarti keadaan di mana kesadaran akan keterbatasan diri sendiri tidaklah tetap ada. Akan tetapi, manakala seseorang turun kebawah, maka kesadaran akan keterbatasan diri pun kembali. Semua kaum Sufi dan arif sepakat bahwa kualitas keharusan (yakni, Kemestian) dan Kemutlakan adalah sifat-sifat Allah, dan sang ‘abd tidaklah mempunyai sifat-sifat ini. Sifat-sifat sang ‘abd adalah terbatas dan membutuhkan. Dan semuanya ini tidak terpisah dari dzat atau “esensi”-Nya. Pada esensinya sang ‘abd bersifat tertentu dan terbatas, dan ia tidak pernah bersifat mutlak dan mesti !

Keadaan fana’ dihasilkan manakala sang penempuh jalan spiritual kehilangan kesadaran tentang dirinya sendiri dan tentang semua makhluk tertentu serta mendapatinya tercampur dalam Realitas Mutlak. dan manakala kesadaran datang kembali, ia pun mengetahui bahwa kemestian dan kemutlakan adalah sifat-sifat penting Allah saja, Dzat Mahabenar.

Keadaan fana yang lebih rendah bisa juga dialami. ini terjadi manakala sang penempuh jalan spiritual menegetahui “keterbatasan”-nya sendiri tersembunyi dalam Wujud dzat Mahabenar, seperti cahaya bintang ditelan oleh cahaya matahari sehingga yang tampak adalah yang hakiki dan yang tersembunyi adalah sang ‘abbd.

Ada kenyataan fana’ lainnya. Ini dipandang sebagai lebih rendah bahkan dari tipe kedua yang baru saja disebutkan. ini terjadi manakala sang penempuh jalan spiritual memandang sifat-sifatnya sendiri sebagai sifat-sifat Allah. Melalui sifat-sifat ini, ia melihat, mendengar, dan berbicara. Ia mengidentifikasikan dirinya dengan Allah dan, seperti Al-Hallaj, menyatakan Ana Al-Haqq atau “Akulah Allah”, sebab ia tidak melihat keterbatasan dirinya sendiri yang ada adalah alloh semata … al-hallaj hanyalah nama nama yang kosong tanpa jasad …. jasad yang kosong tanpa adanya RUUHULLOH dan itulah pertemuan panggilan kefahaman antara muthlaq dengan ithlaq ….

menempati pada MAQOM lahuutiyah ATAS IZIN PANGGILANNYA sendiri

Kenyataan ini dengan jelas dikemukakan oleh Syaikh Muhyiddin Muhammad ibn ‘Ali (Ibn al-Arabi) dalam karyanya yang terkenal, Fushush al-Hikam, dalam bab “Hikmah Adam” atau Fashush Adam. Ia mengatakan bahwa dalam keadaan fana’ fillah atau “fana dalam Allah”, sesungguhnya ‘abdiyat tidaklah berhenti mengada. Yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa sang hamba kehilangan kesadaran tentang keterbatasan dan tentang sifat-sifatnya. Akan tetapi, sesungguhnya, sang ‘abd tidak menjadi Rabb (Tuhan) dan hijab keterbatasan tak pernah tersingkap, sekalipun tidak dirasakan (ada ketika seseorang berada) dalam keadaan fana’. Ibn al-’Arabi mengatakan :

‘Abbd akan tetap ‘abd apa pun kemajuan yang dibuatnya,

Alloh akan tetap Alloh betapapun Dia turun ke bawah.

Jangan katakan bahwa yang mungkin melampaui batas-batasnya,

Yang mungkin menjadi mesti, tetapi yang mesti tidak berubah menjadi yang mungkin,

Ia yang melampaui dalam berbagai rahasia spiritual tidak berkata demikian,

sebab hal ini akan bertolak belakang dengan segenap kebenaran.

Dalam keadaan fana’, apa yang terjadi dalam diri sang penempuh jalan spiritual tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata. Yang hanya bisa dikatakan adalah :

Inilah kegembiraan dalam kegembiraan, keterhapusan dalam keterhapusan

aqal-nya diri telah kembali kepada AQAL-NYA ALLOH … PENGERTIAN diri ..

kembali kepada PENGERTIAN ALLOH ,,,,,,,,,

dan kefanaan dalam kefanaan-salik telah di kehendaki oleh-NYA

untuk menempati pada BAQO’UL-BAQO’-NYA ALLOH ….

tanpa adanya ILMU,diri,aqal,budi,hati ITULAH JAMII’UL JAM’I LILLAH FAQOD

Yang berarti bahwa dzat atau “esensi” dari ‘abd berikut segenap kualitas dan sifatnya pun hapus dan lenyap, dan tak ada sesuatu pun tersisa dari dirinya. Ia tidak sadar akan seluruh perilaku dan tindakannya, akan segala sesuatu yang diketahui dan tak diketahui, dan juga tidak sadar akan esensi atau sifat-sifat dari segenap wujud mungkin lainnya. Ia pun tidak sadar akan dirinya sendiri. Alih-alih, dalam keadaan fana‘ ini, jika sang penempuh jalan spiritual sadar akan kefanaannya maka dirinya itu nyata tidak ada (adam) dan yang ada hanyalah alloh semata , maka yang demikian itu akan menafikan keadaan fana’ itu sendiri dengan diri dalam diri FILLAH ,BILLAH,MA’ALLOH & LILLAH. Demikianlah, kebenaran Alquran terejawantahkan bahwa :

Segala sesuatu yang ada di dunia & akhirat bakal sirna (fana’) dan hanya Allahlah yang Maha kekal (selama-lamanya) yang memiliki keagungan dan kemuliaan (QS. Ar-Rahman, 55 : 26-27).

BY : ALKIS ANNABILA ISYQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s