PENGERTIAN TASAWUF

TASAWUF :

Orang-orang yang membersihkan diri menuju pada keridhoan allah 

Ta’rif dan Asal Usul Kata Tasawuf
=================================
Secara bahasa, kata tasawuf memiliki asal-usul yang jelas.

Oleh karena itu, para penganut tasawuf berbeda pendapat mengenai ta’rif
(definisi) tasawuf. Hingga, melahirkan hampir dua ribu definisi. Semuanya
hanya batasan-batasan kata dan definisi-definisi kosong tanpa ada hakikatnya

“Abu Hamid al-Ghazali wa at-Tasawwuf, Dirosah Haula al-‘Adiid min
Kutub al-Ghazali, wa Khashatan Kitabuhu Ihya ‘Ulumudin, hal. 127-129″) 
Bahwasanya mereka mencoba memaksakan diri untuk menisbatkan asal-usul kata
tasawuf kepada salah satu mashdar bahasa Arab sebagai berikut:

1. Dinisbatkan kepada kata ash-shafa’ yang berarti jernih, bersih, bening.
Tetapi al-Qusyairi sendiri menolak kemungkinan ini. Karena, secara bahasa,
dikembalikannya kata shufiyyah kepada ash-shafa’ masih teramat jauh dari
kebenaran. Kalau betul demikian, tentu pengikutnya akan disebut Shafa’iyun
atau Shafa’iyah. Bukan Shufiyun atau Shufiyah (sufi). (Ar-Risalah
al-Qusyairiyah: 126)

2. Dinisbatkan kepada kata Shufah yakni ahlu shufah. Yaitu orang-orang
fakir dan serba kekurangan yang menumpang tinggal di bagian belakang masjid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. ini juga merupakan penisbatan yang
batil berdasarkan empat alasan

a) Penisbatan kata shufiyah kepada ahli shuffah jelas keliru. Sebab, jika
memang demikian, tentu akan disebut shufi bukan shuffi.

b) Ahlu Shuffah tidak tetap jumlahnya. Kadang banyak dan kadang pula
sedikit. Di antara mereka ada yang kemudian mendapat rejeki dan tempat
tinggal. Sehingga, gubuk tempat tinggalnya yang berada di masjid kemudian
ditinggalkan. Mereka hanyalah orang-orang yang serba kekurangan dan tanpa
sanak famili. Dan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mereka
dibuatkan gubuk (ruang sempit atau shuffah) di Masjid Rasulullah. Mereka
bukan segolongan manusia yang memiliki faham tersendiri.


“Mereka hanyalah orang yang tinggal di masjid karena darurat. Makan dengan
harta sadaqah pun karena darurat pula. Tetapi, setelah Allah membukakan
kemenangan bagi kaum Mukminin atas seluruh negeri, mereka pun tidak
membutuhkan lagi untuk tinggal di shuffah. Maka, keluarlah mereka (dari
shuffah tersebut)

3. Dinisbatkan kepada seorang laki-laki yang hidup pada masa jahiliyah yang
dijuluki shufah. Nama orang itu adalah al-Ghouts bin Murrah. Ia dijuluki
shufah karena ibunya pernah bernadzar apabila ia (al-Ghouts) hidup, ia akan
mengalungkan shufah (sepotong wool) di kepalanya dan akan menjadikannya
sebagai orang yang terikat dengan Ka’bah. Akhirnya jadilah ia (al-Ghouts)
sebagai orang pertama yang di khususkan diri memberikan pelayanan terhadap
Baitul Haram. Selanjutnya ada sebagian orang jahiliyah yang menisbatkan diri
kepadanya dan menamakan diri sebagai Shufah. Maka mereka pun lantas
memutuskan hubungan dengan dunia luar agar bisa berkhidmat kepada Allah dan
memberikan pelayanan terhadap Ka’bah. Dengan demikian barangsiapa yang
menjalankan seperti  kehidup mereka belum tentu ia disebut Shufiyah.

karena aturan maqomat sufihanyalah alloh sendiri yang menghususkan bukan karena manusia 

4. Dinisbatkan kepada Shufanah yaitu tumbuh-tumbuhan kurus yang tumbuh di
tanah tandus. Mereka menisbatkan diri kepada Shufanah karena merasa cukup
hidup dengan tumbuh-tumbuhan padang pasir.
Penisbatan ini juga jelas tidak tepat. Sebab, kalau benar, tentu pengikutnya
akan disebut shufani.

5. Dinisbatkan kepada Shuf. Tetapi inipun ditolak oleh al-Qusyairi, sebab
menurutnya:
“Orang-orang sufi tidak mengkhususkan diri dengan pakaian tertentu.”
(Ar-Risalah al-Qusyairiyah : 126)


Ada yang mengatakan, pakaian shuf (wool) seperti itu justru akan menjauhkan
orang-orang sufi dari hikmah Ilahiyah (Minhaju al-Bahts ‘Inda al-Ghazali:
53)

Tetapi Imam Syafi’i rahimahullah ketika memasuki Mesir (pada tahun 199 H.)
pernah mengatakan:
“Saya menginggalkan Baghdad, sedangkan orang-orang zindiq di sana
menciptakan suatu hal baru yang mereka istilahkan sama’ “

Orang-orang zindiq yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i di sini adalah
orang-orang  tidak memahami haqiqat ketauhidan & ahlaq 


Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ini merupakan petunjuk bahwa persoalan
sama’ adalah persoalan baru. Sedangkan, orang-orang zindiq sudah ada sebelum
itu. Ini terbukti dengan seringnya Imam Syafi’i berbicara tentang mereka.
Misalnya, perkataan beliau:
“Seandainya seseorang menjadi sufi pada awal siang hari, maka sebelum tengah
hari (dhuhur) ia akan menjadi dungu.”
(Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal. 370)

Pernyataan beliau lainnya:


“Tidak ada seorangpun yang mewajibkan (komitmen terhadap) sufiyah selama empat
puluh hari, melainkan akalnya tidak dapat kembali lagi selama-lamanya”.
(Talbis Iblis, hal 370)

Semua itu menunjukan bahwa sebelum abad ke-2 hijriyah berakhir, sudah ada
satu firqah (golongan) yang dikenal oleh ulama Islam kadang disebut kaum
zindiq dan kadang pula disebut kaum sufi…

Akan tetapi pada masa itu dan masa hidupnya Imam Ahmad bin Hambal (awal abad
ke-3 H) kaum sufi ini masih belum sepenuhnya memunculkan diri. Sampai
akhirnya tasawuf mulai kelihatan hakikatnya. Ajarannya begitu pesat tersebar
di tengah-tengah umat dan mereka berani menampakkan apa yang sebelumnya
mereka sembunyi-sembunyikan lantaran menghormati keyaqinan sesama (IMAN)

Begitulah seterusnya. Dan siapa saja yang memperhatikan gerakan sufiyah
sejak awal kemunculannya hingga berkembang secara terang-terangan sedemikian
rupa (abad ke-3 dan ke-4 H.) pasti akan mendapati bahwa pilar-pilar
pemikiran sufi dengan segala alirannya -tanpa kecuali- berasal dari Persia.
Dan tidak di dapati seorangpun di masa itu tokoh sufi yang berbangsa Arab.
Sebaliknya, bila agama sufi ini diperhatikan, maka akan terlihatlah bahwa
tasawuf merupakan sisi lain dari pada tauhid & ahlakul kariimah

Demikianlahm sekalipun al-Hallaj dibunuh dan disalib di jembatan Baghdad pada
tahun 309 H. namun ajaran sufi terus berkembang, terutama di Persia,
kemudian di Irak.

Yang sangat membantu bagi perkempangan ajaran Sufi di Persia manakala muncul
Abu Sa’id al-Mihani yang membuat peraturan khusus di tempat-tempat
pertemuannya. Karenannya, tempat itu lantas menjadi markas besar orang-orang
sufi. Hal ini kemudian di ikuti oleh umumnya orang-orang sufi. Berangkat
dari sini, maka pada pertengahan abad ke-4 H., mulailah terbentuk
thariqot “sufiyah yang demikian pesatnya berkembang di Irak, Mesir dan
Maroko.

Pada abad ke-6 H., muncul sekelompok orang sufi yang masing-masing mengaku
sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Masing-masing akhirnya
membangun sebut tarekat sufiyah tersendiri dan pengikut tersendiri. Maka
muncullah Rifa’i di Irakm, Al-Badawi di Mesir (Al-Badawi ini asalnya dari
Maroko), tidak diketahui siapa ayah-ibunya, siapa sanak keluarganya dan
bahkan tidak diketahui apakah ia benar-benar berasal dari Maroko), dan
Asy-Syadzily di Mesir (ia juga berasal dari Maroko). Begitulah secara terus
menerus bermunculan thiriqot” sufiyah dengan berbagai cabangnya.

Pada abad ke-6, ke-7 dan ke-8 H. merupakan puncak fitnah sufiyah. Mulailah
tersebar secara meluas pembangunan kubah0 kubah kuburan di segenap penjuru.
Itu terjadi tatkala berdirinya zaman Fathimiyah di Mesir yang kekuasaannya
meluas sampai ke banyak negeri Islam. Kuburan-kuburan dibangun sebagai
tempat-tempat ziarah. Selain itu dia dakan pula kuburan-kuburan palsu,
seperti kuburan Husein bin Ali di Mesir dan kuburan Zainab dan sebagainya.

Catatan  di nuqil dari 


(1) “Abu Hamid al-Ghazali wa at-Tasawwuf Dirasah Haula al-‘Adid min Kutub
al-Ghazali, wa Khash-shatan Kitabuhu Ihya’ ‘Ulumuddin”,

(2) Syaikh Abubakar Jabir Al-Jazairi : “Ila at-Tasawwuf Ya ‘Ibadallah …”,
Jam’iyyah ihya’ at-Turats al-Islami, Kuwait, tanpa tahun hal 7.

(3) Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid (syech hasan asyyadzily): “Al-Muntaqa an-Nafis
Min Talbis Iblis Li al-Imam Ibnu Al-Jauzi”, Dar Ibnu al-Jauzi, 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s