Mengenal Garis Besar Ajaran Syekh Siti Jenar

Ajaram Metafisis Filosofi (Hakekat)
 

INILAH Pertempuran yang sebenarnya antara kearifan dan kesombongan.
Antara kebenaran dan kepalsuan antara kepandaian dan kebijakan”

 

 وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

 

Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

 

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

 Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya 

 

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
 

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki 

 

Dalam perspektif filosofis, semua hal yang ada di dunia ini memiliki aspek fisika (fisik) dan metafisika (metafisik). Demikian pula agama memiliki dua aspek tersebut. Syariat merupakan bentuk fisik dari agama, sedangkan bentuk metafisikanya ada dalam hakekat dari syariat agama. Seseorang hendaknya mengetahui fisik atau syariat yang merupakan tata caranya mencapai spiritual. Sedangkan metafisik atau hakekat sebagai bentuk pencapaian spiritualnya. Filsafat bukan mebicarakan fisik dari segala yang ada, melainkan membicarakan metafisika atau sesuatu yang ada dibalik keadaan fisik.

Ajaran Siti Syeh Jenar lebih memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yang lebih tinggi yakni hakekat. Hal itu berbeda dengan ajaran yang disampaikan para wali, yang lebih mengedepankan syariat. Meskipun demikian ajaran Syeh Siti jenar yang mengutamakan filsafat ketuhanan dan kebenaran mengarah kepada ajaran Islam yang umumnya disebut sebagai ilmu tasawuf. Ajarannya mengutamakan pentingnya pengolahan kalbu (istilah Gusti / sembah qolbu/cipta) dengan implementasi pada ibadah-ibadah bersifat lahiriyah.

Syeh Siti Jenar mengajarkan tentang falsafah kebenaran dan berusaha merumuskannya ke dalam bentuk kearifan dan kebijaksanaan. Sehingga menciptakan suatu hukum-hukum dalam bertindak (akhlak). Di situlah muncul kesan penyimpangan ajaran Syeh Siti Jenar jika dipandang dari perspektif penganut ajaran yang lebih mengutamakan syariat baku atau bagi yang memahami Qur’an dan Hadits secara tekstual. Terlepas dari munculnya kesan di atas, ajaran Syeh memang banyak menyangkut perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pandangannya mengandung nilai metafisik mengenai baik-buruk, dan salah-benar.

Pro Kontra Ajaran Syekh Siti Jenar

Sejak itulah terjadi pro-kontra antara Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang berikut para muridnya dengan para wali. Kubu para wali bersikukuh menilai ajaran Syeh Lemah Abang adalah sesat. Sementara masyarakat waktu itu menganggap ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Syeh Siti Jenar sebagai pencapaian spiritual yang tinggi. Apalagi ajarannya tetap berpegang pada pandangan Islam. Di hadapan para muridnya Syeh Lemah Bang merupakan seorang sufi, sebagaimana tokoh-tokoh sufi lainnya yang memandang bentuk kehidupan dunia ini sebagai kebusukan yang memuakkan. Sehingga seorang sufi menghindari kehidupan duniawi dan memilih kesederhanaan. Dunia dipandang sebagai kematian, sebab kehidupan yang sesungguhnya adalah sesudah seseorang menemui ajalnya. Jadi manusia yang hidup di dunia ibaratnya bangkai-bangkai yang bergentayangan. Pemikiran demikian sesuai dengan ajaran sufisme yang berkembang di ranah Arab.

Syeh Siti Jenar dan para muridnya sangat menyadari bahwa ajarannya seolah aneh, sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Penilaian ini muncul sejak dahulu hingga saat ini. Kenyataan ini wajar saja karena memang orang-orang sufi dan penganut ajaran tasawuf di dunia ini jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang yang mengikuti syariat murni. Sedangkan menurut ahli tasawuf bahwa Islam tidak sebatas syariat, melainkan ada tingkatan-tingkatan peribadatan yang wajib ditempuh yakni tarekat, hakekat dan makrifat. Seseorang dapat disebut sebagai Islam sejati apabila telah mengamalkan tingkatan peribadatan secara utuh.

Kritik Syekh Siti Jenar

Tugas Umat (para wali) yang Tidak Tuntas

Menurut Syeh Jenar, orang Islam kebanyakan yang masih awam ibarat sebagai kulit kelapa. Ilmunya masih sebatas berada di kulitnya saja. Padahal untuk mencapai air kelapa, seseorang harus melewati kulit, lalu dagingnya dan barulah bisa mereguk air kelapanya (makrifat).

Perumpamaan Siti Jenar ini kira-kira dapar dipersonifikasi lebih jelas sebagai berikut;

1. Syariat diumpamakan kulit kelapa,

2. Tarekat diumpamakan tempurungnya,

3. Hakekat diumpamakan sebagai daging kelapanya, dan

4. Ma’rifat diumpamakan sebagai air kelapanya.

Maka sangat jauh dari tujuan pencapaian spiritual apabila seseorang mandeg pada tingkatan syariat saja. Sebagaimana ajaran yang lebih utuh seperti dituturkan dalam ajaran Kejawen tentang tata cara mencapai spiritual yang dituangkan dalam pengetahuan spiritual Catur Sembah yakni; sembah raga (syariat), sembah cipta/qolbu (tarekat), sembah jiwa (hakekat), sembah rasa (ma’rifat). Beliau menuturkan apabila seseorang akan meraih pencapaian spiritual, hendaknya menempuh empat macam “laku” sembahyang atau catur sembah.

Syeh Siti Jenar tidak setengah-setengah dalam mengajarkan ajaran Islam. Justru Siti Jenar menilai bahwa para wali  Tidak Semua para wali itu mengajarkan Islam secara keseluruhan dan para Murid masih baru pada tahap “serabut kelapa” saja, atau kulit, syariatnya sehingga banyak sekali yang masih dalam tahapan lahiriyah semata akan menjadikan kefasikan seperti penjelasan syeikh imam syafi’i

 

ومن تفقه ولم تصوف فقد تفاسق ومن تصوف ولم تفقه فقد تزندق

Barang siapa yang belajar Ilmu Fiqih tanpa belajar Ilmu tasawuf maka fasiklah dia Barang siapa yang belajar ilmu tasawuf tanpa belajar Ilmu Fiqih maka zindiklah dia

والمراد هو من اعتمد علي الباطن وترك الظاهر وعنده يسوي الملك علي غيره اي لا يميز بين الفعل العبد وفعل الملك ولا يميز بين الحلال والحرام لان كلها فعل الله وارادة الله فقط 

(1) Adapun yang di maksud dengan pengertian di atas adalah Orang-orang yang masih bergantung pada amal lahir dan meninggalkan amal lahir di sisi manusia karena secara tidak langsung itu menyaingi / menyerupai / membandingi pada YANG MAHA MEMILIKI pada selainnya RAJA artinya tidak ada perbedaan diantara Fi’lullah dan Amalnya Hamba tidak ada perbedaannya diantara HALAL dan Haram karena sesungguhnya semuanya itu FI’LULLOH Dan Irodah (kehendak)nya allah saja. 

وهذا كفر صريح ومن تصوف ويتفقه فقد تحقق

Dan Inilah (1) yang di maksud kufur yang nyata yang di benarkan adalah seorang yang yang mempelajari ilmu tasawuf dan mempelajari ilmu Fiqih.

syeikh junaidi menjelaskan :


سره طريقتنا هذا طريق التصوف مقيدا بالكتاب والسنة 

RahasiaKu ( jalanKu) itu memakai jalan tasawuf namun dengan landasan Kitab-kitab allah dan sunnah rosulullah saw.


Syeikh Ibnu Fadhil 


ومن اراد الوصول الي الله فالتزم متابعة النبي صلى الله عليه وسلم ظاهرا وبا طنا وعملا وعلما وهو اكمل الخلق وافضلهم وعبادته اتم ولا شك لان المتبوع افضل من التابع وشرف العمل بالاخلاص

Barang siapa yang menghendaki sampai disisi allah (wushul) maka wajibkanlah pada dirimu untuk selalu mengikuti jalan nabi ahmad saw baik secara lahiriyah dan batiniyahnya serta amaliyah dan ilmunya karena Nabi ahmad bila Mim wal ‘arob bila ‘ain adalah utama-utamnya mahluq adapun Ibadahnya Nabi itu lebih Utama dan jangan Ragu /pun was was . karena mengikuti ajaran rosulullah adalah utama”nya orang yang mengikuti dan mulia”nya Amal itu dengan Ikhlas (bersih) dari amalnya Diri. 

 Menurut Siti Jenar, hal itu akan membahayakan bagi umat Islam sendiri maupun umat yang lainnya dalam kancah perhelatan dunia di kelak.

 اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

 

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan

Wallahu a’lam bishowwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s